PURBAYA OH PURBAYA
Nama Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bukannya meredup setelah berhenti menjadi Menteri, tetapi semakin melambung.
Semenjak dia turun tahta, digantikan anak buahnya, Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru, semakin cemerlang saja nama lelaki yang selama ini dikenal bicara apa adanya itu.
Purbaya mendapat simpati istimewa dari rakyat semenjak Presiden Prabowo mencopotnya beberapa hari lalu.
Istilah di kampung saya, Purbaya ini "jatuh asap". Jatuhnya bukan ke bawah, tetapi ke atas.
Apabila diperhatikan, Purbaya ini dilihat rakyat sebagai korban. Kasarnya, terkesan oleh publik dia terzolimi. Sedih rakyat melihat nasibnya.
Proses pemberhentiannya terkesan oleh rakyat seperti sangat menyedihkan. Bahkan terkesan merendahkan. Bayangkan, ketika Purbaya sedang sibuk dalam tugas rapat dengan DPD-RI, Tampa diberitahu sama sekali, ternyata persiapan pergantiannya sudah tuntas.
Untung saja jantung Purbaya sangat kuat. Kalau tidak, mungkin langsung copot menerima informasi pemberhentiannya yang sangat tiba-tiba tanpa pemberitahuan sama sekali sebelumnya ini. Untung pula Purbaya bukan type orang gila jabatan. Kalau tidak, mungkin dia langsung pingsan menerima informasi pencopotannya yang bagaikan petir di siang bolong ini.
. Beranjak dari semua ini, langkah Purbaya ke depan tampaknya suit ditebak. Bisa jadi dia akan dipinang banyak partai politik dan tokoh untuk maju di Pillpres 2029 nanti. Bisa jadi dan bisa jadi.
Namun langkah pemberhentian Purbaya ini mungkin bisa menjadi pelajaran bagi Prabowo ke depan. Walaupun pemberhentian dan pengangkatan seorang Menteri adalah hak prerogative Presiden, tetapi Presiden harus juga memperhatikan kemungkinan respons publik atas keputusan yang diambil Presiden.
Publik agaknya tidak rela, kalau Presiden mengganti dan mengangkat Menterinya hanya berdasarkan suka atau tidak suka orang-orang partai. Atau didasarkan Kerala suka atau tidak suka reman dekatnya. Tetapi harus didasarkannya kepada kepentingan bangsa dan negara.***