Buku Harian Bustami Narda:(2) | CONGAU
W Congau.Net

“Kabar Terbaru, Fakta Terpercaya.”

Login
Opini

Buku Harian Bustami Narda:(2)

Tanggal: 20 September 2026
Update: 18 menit yang lalu
Waktu baca: 2 menit baca
Bagikan
Buku Harian Bustami Narda:(2)

Bustami Narda

"KABAR TIDAK BAIK"

Tanggal, 9 Desember 1982:

Hari ini hatiku sungguh sangat gundah gulana. Mengapa tidak, seorang teman dari kampungku menemuiku ke sekolahku di SMA Negeri Kota Solok, Sumbar, tepatnya di Tanah Garam.

Begitu lonceng jam istirahat berbunyi, teman-teman di lokalku berlarian ke luar. Umumnya mereka menuju kantin sekolah.

Karena hujan turun sejak pagi hingga kini sudah pukul 10.00 Wib, banyak teman-teman yang berlari ke kantin sambil memayungi kepala mereka dengan kedua telapak tangannya masing-masing. Cewek-cewek, sebagian ada yang menudungi tubuhnya dengan payung.

Di tengah halaman sekolah kami, ada pohon barus rindang yang tumbuh antara lokalku dengan kantin sekolah. Banyak teman-teman yang berteduh di bawah pohon barus berdaun hijau itu berteduh.

Aku melangkah keluar lokal paling terakhir, setelah Ibu guru kelas kami keluar. Ibu guruku sekaligus Wali Kelas kami. Namanya akrab kami panggil Ibu Upik. Beliau cantik. Belum bersuami. Karena aku Ketua Kelas, ada beberapa hal yang dibicarakan Ibu Upik dengan saya, sebelum beliau keluar kelas menuju kantor majelis guru. Aku mengikuti langkah Ibu Upik dari belakang.

Sesampai di luar pintu lokal, begitu aku menoleh ke kanan, aku terkejut melihat seorang temanku dari kampung berdiri di sana.

Begitu bertemu aku, dia langsung menyampaikan satu kabar tak baik kepadaku.

Menurutnya, kakak sepupuku nyaris berkuhantam dengan seorang lelaki dalam suatu pesta di kampungku sehari menjelang dia menemuiku ini. Pasalnya, lelaki itu mengganggu perempuan yang baru saja menikah dengan kakakku tetapi belum diresmikan secara adat melalui resepsi. Di kampungku adat sangat kuat. Walaupun sudah menikah, kalau belum diresmikan secara adat, belum boleh hidup serumah. Lelaki itu bukan orang asli kelahiran kampungku, tetapi merantau ke kampungku.

Aku merasa sangat terpukul menerima informasi ini. Terbayang olehku wajah kakakku ini. Walaupun kami tidak satu ayah satu ibu, tetapi kami sudah serasa satu ayah satu ibu karena sejak kecil kakakku ini sudah bersama Ibuku, setelah Ibu nya meninggal dunia waktu dia masih bayi.***

Tags
Komentar

Belum ada komentar yang disetujui.

Komentar akan tampil setelah disetujui admin.